Saturday, April 18, 2009

Obrolan Akar Rumput

Di sebuah warung kaum jetset, terdapat hanya dua pengunjung pria malam itu, semuanya duduk mendekat ke meja barista. Alunan lagu Home dari tv plasma di warung menambah suasana menjadi sepi nan syahdu.

Pria I 
Wah... Michael Buble (pronounce; babel) sama siapa tuh?
Pria II 
Blake Shelton... 
dan, maaf, sebenarnya bukan babel tapi buble aja... membingungkan memang bahasa mereka itu... terkesan seenaknya.
Pria I : 
Bukannya Maikel Babel?, dia 'kan American... Jadi, begitu dong nyebutnya...
Pria II : 
Terserah deh, mas... lagian kita juga berhak kok seenaknya. Sah-sah saja... dan, maaf lagi, 
dia bukan American tapi Canadian.
Pria I : 
Sok tahu nggak tuh..?
Pria II
Ya, 'kan... aduh, mas... saya malas adu argumen, apalagi cuma gara-gara 'barat'. enggak ada untungnya lho nanti...
Pria I
Tapi, kok situ keliatannya tahu banyak soal 'barat' ?.
Pria II
Yaah... coba mas lihat... seberapa banyak majikan sekarang yang mengerti latar belakang pembantunya dengan begitu mendalam?
Pria I
Aku cuma tahu sedikit sih tentang latar belakang pembantuku dirumah... Eh, maksudmu?
Pria II
Saya 'kan pembantunya... 'barat' kan majikannya... jadi normal dan sah kalau saya tahu banyak tentang majikan saya, bahkan wajib, mas... Tapi kalau majikan enggak peduli sama saya, ya biar saja, mas, biasa itu... Dubes AS untuk Indonesia aja, masih belum terlihat tuh, memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam setiap kesempatan.
Pria I
Ah... kalau masalah dubes, dia kan baru 2007 kemarin di Indonesia... maklum lah, kan sulit. Situ, emangnya sudah bisa berbahasa inggris dengan baik dan benar?
Pria II
Tuh, 'kan... kok malah berargumen lagi, mas... udah, ah mas... saya pulang dulu aja deh... dan, tolong saya jangan dipanggil 'situ', dong... kesannya kok, mas najis sekali sama saya ya. Kapan-kapan deh, kita bahas hal lain yang lebih menarik...

lagu Home telah usai, bersamaan dengan Pria II yang meninggalkan warung. Pria I pun melanjutkan menyuruput kopi diiringi kata penutup dari konser musik di tv plasma.

Michael Buble : 
The one and only... Blake Shelton!
Blake Shelton :
MAIKEL BUBLE everybody!!


(Empiris tentang sosialisme ala Indonesia)

Monday, March 9, 2009

Catatan Harian Bersama Balawan, Daft Punk dan Anton Chekov.

Hari-hari yang saat ini saya alami dapat dibilang hari-hari yang penuh perenungan, atau istilah buat saya yang dipublish oleh kakak-kakak saya adalah 'ngayal'. Dalam hal ini, jika bisa divisualkan, saya memilih untuk menambahkan keringat yang berlumuran di permukaan otak saya... memang ini adalah aktifitas penemuan ide yang tidak mudah, itulah kira-kira penyebabnya. Kesadaran akan Tugas Akhir kuliah yang sebentar lagi akan terlaksana memaksa saya untuk mengalami ini semua, mulai dari filtrasi terhadap beragamnya asedensi idealisme hingga tak henti-hentinya saya memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta petunjuknnya yang paling afdol. Dan pada suatu kulminasi tertentu saya mencoba untuk melakukan kegiatan-kegiatan dalam rumah, salah satunya mendengarkan musik yang terkesan merupakan kegiatan simple. Saya buka folder lagu yang ternyata sudah mencapai 25 Gb di komputer, menurut saya ini angka yang besar meski terlalu banyak file mp3 hasil convert dengan kulitas yang secara otomatis bisa menggelembunggkan besar ukuran setiap filenya, tapi bagaimanapun juga koleksi itu terlihat sudah banyak. Sambil berpikir bagaimana cara membackup data lagu-lagu itu sehingga harddisk bisa sedikit "bernapas", saya mulai dengan mendengarkan lagu dari Daft Punk, duo asal perancis ini memang esentrik sekali dengan jubah robotnya, bisa ditebak musik mereka memang menggunakan pendekatan elektronik yang kental. Saya kenal Daft Punk dari teman saya bernama Rio, dia pemuda yang tangguh dengan empiris teknologi kekiniannya dan meski saya sudah jarang bertemu dia akhir-akhir ini, sebagai rasa terima kasih telah mengenalkan Daft Punk (DP), saya doakan apa yang dilakukannya akan lancar diluar sana... (amien io!). dan sampailah saya pada sebuah lagu milik DP berjudul Something About Us setelah sebelumnya lagu Digital Love adalah lagu favorit di folder DP, saya merasa keringat-keringat di otak saya mulai terkena angin ketika mendengarkan Something About Us. Tidak tahu lagu itu memiliki teknik apa, yang jelas saya suka melody nya, untuk liriknya memang gampang sih didengarkan, tidak seperti lagu-lagu barat pada umumnya yang kabur karena pronounce masing-masing, dan saya mencoba untuk tidak menyelami lirik kali ini, just singing, sampai-sampai saya memberanikan scat (meski kacau) dengan lick melody di akhir-akhir lagu...

Lalu sambil menikmati saya berpikir apa kira-kira lagu yang ingin saya dengar berikutnya, dan album baru Balawan ;
see you soon memang masih mencuri perhatian saya. Dua lagu jumlah yang saya pilih dalam album gitaris terpuja kali ini, yaitu Asal Kau Mau dan Like Someone In Love, lagu yang pertama diciptakan oleh Dewiq dan dinyanyikan dengan khas oleh Balawan, namun pada dasarnya, (lagi-lagi) melody di kedua lagu ini yang membuat saya mudah terngiang, terasa damai, tentram, dan sejuk mungkin...

Setelah menambahkan beberapa lagu-lagu yang hanya bersifat 'Partai tambahan', saya mencari buku milik mas Adin yang saya pinjam beberapa waktu yang lalu, buku ini merupakan kumpulan cerita pendek Anton Chekov sang penulis yang termahsyur di akhir abad ke-19. Seperti berpetualang dengan budaya rakyat Rusia jika saya membaca cerita-ceritanya, cerita-cerita pendek itu bagai film-film pendek buat saya, Chekov menggambarkan dengan kalimat yang begitu detil juga sopan, kesopanan karya-karya Chekov membuat motivasi tersendiri bagi saya, mungkin ini karena imbas kebiasaan akhir-akhir ini yang sering melahap buku-buku dengan penulis yang bersifat ilmiah. Kata 'sopan' mungkin dapat diartikan 'sederhana', tapi saya mencoba tetap memakai kata 'sopan', karena lihat saja bagaimana beliau bertutur menyebut pembacanya dengan 'Pembaca yang budiman', zaman bisa saja menjadi alasan fundamental bagi kepribadian Chekov waktu itu, dan kesimpulannya, menyimak tulisan Anton Chekov seperti sedang berdialog dengan seorang pemuda yang sopan.

Itulah secuil hal yang perlu saya syukuri kali ini, penemuan ide memang selalu terasa aneh bagi saya, tidak menyangka jalan berliku itu akhirnya dapat dilewati dengan cara-cara yang cenderung tidak sengaja kecuali cara saya meminta petunjuk kepada-Nya.
Benar juga anekdot si editor film, Walter Murch,
It can be complicated to be simple and simple to be complicated but sometimes it is just complicated to be complicated.

Monday, February 23, 2009

Gedung Bioskop dan Andi

Di suatu siang yang panas dan berdebu, sebuah mobil dan beberapa sepeda motor beranjak pergi satu persatu meninggalkan TK yang berada di belakang sebuah bioskop. Memang membingungkan jika mengingat denah penataan bangunan-bangunan itu, apa tujuannya? itulah yang saya pikirkan saat beranjak dewasa, dalam satu komplek yang padat di pusat kota, ada bioskop yang cukup besar dengan kegiatan hiburan filmnya (rata-rata film kelas B), sebuah TK yang penuh keceriaan, beberapa kantor pemerintahan dengan rutinitasnya, juga sebuah perpustakan umum yang sepi pengunjung dan memiliki intensitas cahaya ruangan cenderung gelap. Bermacam-macam ekspresi yang dimiliki murid-murid TK saat itu, ketika para orang tua, mbak, mas, atau siapa saja yang berpredikat sebagai pengasuh mulai tersenyum setelah beberapa saat menunggu kepulangan sang buah hati di depan sekolah. Ada yang cemberut, tertawa riang, lega, bahkan menangis tidak mau pulang. Untuk yang terakhir saya juga heran, pasti ada saja yang menangis setiap kali jam pulang sekolah tiba, saya tidak ingat lagi apa saja penyebabnya, tapi yang jelas Devi si pirang-lah pemegang rekor untuk kategori terbanyak menangis di saat pulang sekolah. Memang saya berada pada kelompok anak-anak yang memiliki "waktu lebih" untuk tetap bermain-main disekolah mengingat kantor Ibu yang hanya berjarak 50 meter dari sekolah. Jadi dengan bermain dan kadang-kadang dicampur bengong, saya bisa mengamati adegan jemput di sekolah itu. Jelas, saya tidak sendiri, ada beberapa teman lagi yang ikut bergabung untuk menikmati fasilitas sekolah seperti prosotan, jungkat-jungkit, dan ayunan sebagai favorit, semuanya laki-laki. Andi, adalah teman yang berhasil saya ingat, disini dia bukanlah sahabat yang paling dekat dengan saya, juga bukan seorang musuh bagi saya, tapi entah kenapa hanya nama dia yang berhasil saya ingat (meski bukan nama lengkap), kaki nya yang penuh bekas luka, badannya yang montok, rambut cepaknya, seragamnya yang selalu dekil, semuanya masih jelas terbayang. Andi merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dialah putra kedua dari tukang kebun sekolah kami, jadi mungkin sebuah kewajaran jika saya jarang sekali melihat Andi menangis disekolah, malah bisa dibilang Andi adalah seorang anak yang kuat.

Suatu ketika Andi dengan jiwa berpetualangnya bersama saya berniat untuk menelusuri "tetangga kami", yaitu gedung bioskop. Sebagai latar belakang, bioskop ini bernama Lawu (nama telah dikoreksi oleh salah satu pembaca blog), waktu itu saya tidak akan mau tahu untuk mengetahui kapan berdirinya, gedungnya cukup besar, inilah gedung bioskop paling besar se-kotamadya, di situ terdapat juga arena billyard, kumpulan rumah makan dan tempat parkir yang luas. Namun memang, entah kenapa bioskop ini sudah mengalami keterpurukan waktu itu, perawatan bangunan yang kurang (sampai-sampai terkesan angker), sepinya pengunjung dan film-film yang diputar adalah kategori film dewasa, otomatis poster-poster film dari bahan kain yang sangat besar membentang di depan bioskop, tangan ibu selalu menutup mata saya ketika harus melewati bioskop ini untuk berangkat ke sekolah dan saya hanya bisa diam dengan tetap berpegangan pada stir motor. Hampir semua guru di TK juga tidak henti-hentinya memberikan larangan untuk bermain di gedung bioskop, apalagi sampai masuk kedalam, bisa jadi inilah larangan paling keras di sekolah, "dan ingat anak-anak, jangan bermain di sekitar gedung bioskop!" ujar kepala sekolah sebagai kalimat penutup disetiap kami akan pulang.

Gelap dan lembab jika berada di dalam bioskop, kami berhasil masuk melalui pintu rahasia yang dengan bangga ditunjukkan oleh Andi, pintu itu terlihat sudah jarang sekali dilewati, indikasinya adalah tanaman liar yang tumbuh lebat tepat di depan pintu, “ri, mau lihat dalemnya bioskop nggak?” tanya Andi didepan pintu, "Ayo ndi, tapi sebentar aja" jawab saya ragu antara takut dengan larangan sekolah dan keinginan yang menggebu untuk mengetahui isi gedung bioskop, Andi berada di depan, saya mengikutinya dari belakang, berjalan pelan membuka sebuah pintu tua besar dari kayu yang sudah lapuk dan bolong-bolong dimakan usia, daun pintunya ada dua, di kiri dan kanan, knob pintu terbuat sederhana dari besi tua berkarat dengan fasilitas lubang gembok dari sisi luar, warna pintu itu putih bersih seperti dinding bangunannya, karena hanya memakai cat kapur atau yang biasa kami sebut Labur, warna putihnya mudah sekali menempel di seragam TK yang berwarna biru tua, praktis jika ada murid-murid TK yang seragamnya terkena cat kapur ini, dengan yakin guru-guru di TK langsung memarahi karena "telah" bermain di gedung bioskop. Tangan Andi masuk melalui lubang disebelah knob dan langsung terdengar seperti suara grendel yang ia tarik, dan terbukalah pintu tua itu. Lorong bioskop yang kami hadapi, bau pesing menyengat, lubang angin-angin di ujung lorong sedikit membantu pencahayaan, saya masih bisa melihat ada beberapa anak tangga di depan "Kamu udah pernah nonton disini?" tanya Andi "belum ndi, kalau kamu?" saya bertanya balik, kami menaiki anak tangga yang membawa kami di persimpangan. "itu, kita biasa nonton didalam situ" ujar Andi sambil menunjuk pintu yang tertutup kerai di kanan kami, "tapi itu biasannya terkunci" tambah Andi, saya segera memastikan dan setelah kerai dibuka pintu itu memang sudah tergembok. "Ada jalan lain?" tanya saya berharap, Andi langsung mengamati seluruh sudut lorong sambil berkata "Ada sih, tapi pak Mario mudah sekali melihat kita nanti", "pak Mario y?" jawab saya setelah mengingat sejenak nama itu, pak Mario adalah penjaga bioskop ini, ia tinggal di sebuah ruangan kecil yang masih menjadi bagian dari gedung bioskop, mungkin semacam rumah dinas untuknya. Kami sering sekali berkunjung ke rumah pak Mario, pintu depan rumahnya terletak di depan TK persis, ia tinggal bersama istrinya, pak Mario berumur sekitar 40an tahun dengan badan yang masih tinggi tegap sedikit kekar dan yang paling saya ingat adalah tatoo bunga mawar di dadanya sebelah kiri.

Sebenarnya, hubungan kami dengan pak Mario berawal ketika segerombolan kanak-kanak seperti kami secara tidak sengaja mengetahui kegiatan pak Mario di depan TV sedang memegang pengendali video game, juga suara khas dari video game yang sedang dimainkan olehnya, itu semua menambah keinginan kami untuk sekedar menonton, syukur-syukur di kasih pinjam, tapi dalam ingatan saya pak Mario tidak pernah sekalipun menawari kami untuk menikmati permainan keren tersebut dan beliau juga tidak pernah sama sekali memarahi kami seperti ketika istrinya mengusir kami semua yang bisa berjumlah 15-20an anak berjubel dalam satu pintu. Istrinya terkenal cerewet seperti mbok Bariyah di lakon si Unyil, ia mulai marah ketika fungsi pintu sebagai akses telah kami "blokir" bersama-sama, dan pemilihan tempat itu sebagai tempat menonton sebenarnya inisiatif kami, atau mungkin sebenarnya kesungkanan kami terhadap pak Mario, kami merasa pengertian aja dengan ruangan yang dimilikinya, begitu sempit, begitu banyak perabotan dan yang paling penting kenapa kami berada di depan pintu saat menonton adalah, sikap mengamini pak Mario dan istrinya yang ditunjukkan dengan tidak mempersilahkan kami masuk dan tidak juga mengusir kami. Jelasnya, pak Mario adalah maniak Nintendo 8 bit, itulah salah satu keinginan terbesar saya (mungkin juga keinginan teman-teman yang ikut nggrombol di depan pintu).

Memang istri pak Mario lebih sering menghilang masuk keruangan lagi didalam, hanya sesekali istrinya menghampiri pak Mario, itupun untuk mengantar minuman atau hanya sekedar kipas-kipas untuk mendapatkan kesejukan. Pak Mario terkenal dingin dengan anak-anak TK, ia tidak pernah sama sekali mengajak ngobrol kami yang bisa dibilang betah menunggu aksinya di sebuah permainan Nintendo. Permainan Mario Bros adalah yang paling sering dimainkan oleh pak Mario, itulah asal muasal nama yang kami berikan ke pak Mario. Nama itu terpaksa kami berikan karena sikap dinginnya terhadap kanak-kanak seperti kami, sampai-sampai kami tidak tahu siapa nama pak Mario sesungguhnya, kalaupun tahu mungkin saja hari ini lupa, jadi saya bersyukur telah berinisiatif bersama teman-teman dulu memanggilnya pak Mario, begitu menancap di kepala, toh nama seperti itu rasanya tidak merendahkan kewibawaan seseorang. Kebiasaan bertelanjang dada pak Mario membuat tatoo elangnya mudah terlihat dan tentu saja itu bisa menambah gahar, pak Mario biasa duduk di kursi berangka besi dengan tali-tali kecil dari karet sebagai alas duduknya, TV 14 inch 2 meter di depanya terletak diatas almari setinggi 1 meter, "pak Mario biasa melihat keadaan dari kaca di belakang TV!" bisik Andi sambil mengawasi lorong sebelah kiri kami, hati saya bergejolak mendengar kata-kata Andi, betapa tidak, saya sangat ingin sekali melihat seperti apa bentuk "TV raksasa" yang sering di ceritakan teman-teman di sekolah waktu itu, tapi di lain sisi saya sangat takut dengan sikap dingin pak Mario, saya hanya bisa diam tidak bereaksi atas bisikan Andi tadi.

"Bentuknya seperti apa sih ndi?" tanya saya, itulah bentuk kalimat tanya retoris yang sering saya gunakan, mungkin sampai sekarang saya masih menggunakan bentuk kalimat semacam itu untuk sekedar mengobati rasa sesak di hati akibat sesuatu yang diinginkan tidak bisa direalisasikan, "Apanya?" Andi balik bertanya "TV raksasanya ndi" Andi berhenti memeriksa lorong dan langsung menatap saya tajam "Seperti namanya ri, buwesarr!" Andi menunjuk ujung lorong pertama hingga ujung lorong kedua dengan dua tanganya "kira-kira segini besarnya!" tambah Andi dengan tangan terbentang, wah, besar sekali pikir saya, saya semakin penasaran, bagaimana caranya memasukkan TV sebesar itu?, berapa orang yang mengangkut?, lewat pintu sebelah mana?, TV nya aja segitu, kasetnya sebesar apa ya? pikiran saya melayang kemana-mana sambil duduk jongkok bersandar di tembok lorong.

Andi akhirnya ikut duduk di sebelah saya "pak Mario sedang asyik main Nintendonya sekarang" kata Andi, lalu seketika saya beranjak dari duduk jongkok saya, "Saya masih pingin lihat ndi, dalemnya seperti apa?" jawab saya, Andi mengerenyitkan dahi, saya ditarik oleh Andi, tangannya memegang erat lengan saya sambil berlari kecil, lorong di kiri tak terasa sudah hampir kami lewati, ujung lorong sudah di depan, kami berusaha memelankan langkah, "dimana dia?" tanya saya, Andi segera melihat lorong berikutnya dan segera menggandeng saya untuk memasuki sebuah pintu, Andi membukannya pelan, lamat-lamat terdengar suara khas permainan Nintendo; Mario Bros, kami pun saling bertatapan dan saling menahan tawa. Ternyata pintu yang di buka Andi adalah pintu sayap gedung bioskop, kami hanya masuk separuh dari pintu karena disitulah blindspot kaca pengawas pak Mario, dari sudut pandang tempat saya dan Andi berdiri, saya hanya bisa melihat deretan kursi yang rapi dan alas duduk kursi yang terlipat keatas, sebenarnya saya langsung tahu dimana letak "TV raksasa" nya, namun suara game Mario Bros yang dimainkan pak Mario tiba-tiba mengikat ketertarikan kami berdua, kami terdiam lama sambil berdiri di blindspot, musik video games masih mendominasi suara dibandingan tikus yang terus berdecit di kejauhan, lalu musik itu berubah tiba-tiba, kami segera tahu kalau permainan itu telah sampai pada tingkat perlawanan dengan sang big boss yang ada di setiap akhir levelnya, dengan refleks yang ada, kami segera memasuki ruangan pemutaran tanpa ragu, hamparan kursi berjejer rapi, kursi-kursi itulah yang saya lihat terlebih dahulu, Andi langsung duduk santai pada salah satu kursi, akhirnya pandangan saya jatuh pada sesuatu didepan kursi-kursi itu, sesuatu tersebut ditutup oleh semacam gordyn dan dikarenakan cahaya di dalam cenderung gelap, warna gordyn tidak berhasil saya ketahui. "Ya, itu TV raksasanya ri" kata Andi pelan "tapi kalo sekarang masih diselimuti, biar nggak rusak" tambahnya. Kaki saya tak kuasa menahan untuk melangkah ke depan dan mengetahui seperti apa yang ada di balik gordyn itu? hanya beberapa langkah kaki saya melangkah, tiba-tiba konsentrasi kembali pada musik video games yang dimainkan pak Mario, dan musiknya mengindikasikan bahwa sang big boss telah berhasil dikalahkan, Mario atau Luigi akan melanjutkan ke level berikutnya, dalam hitungan detik, setelah saya saling bertatapan dengan Andi, kami secara bersamaan berlari keluar ruangan dengan berusaha meredam suara langkah hingga keluar dari pintu rahasia dan segera melihat sinar Matahari yang menyilaukan.

Setelah napas tersengal-sengal kami tertunduk dan mulai tertawa bersama, mengingat kejadian yang baru saja kami alami bersama, tiba-tiba ibu Andi memanggil dari kejauhan dan Andi segera berpamitan pulang. Kami hanya mengucapkan kalimat saling berpamitan saja di tengah-tengah hati saya yang sedang berbahagia karena telah melihat isi dari gedung yang selama ini membuat saya penasaran, itu semua disebabkan oleh kegiatan mendengar cerita teman-teman, atau sekedar mencuri dengar pembicaraan kakak-kakak saya tentang bioskop. Setelah dipikir lagi saya layak untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada Andi.

Saya tidak tahu dimana dia sekarang, setelah lulus TK kami sudah tidak satu sekolah lagi, anak paling kuat di TK itu telah menghilang dari kehidupan saya entah kemana, detil wajahnya pun saya sudah banyak lupa apalagi jika sekarang bertemu dijalan, di saat usia sudah bertambah sekitar 19 tahun, niscaya kami tidak akan saling mengenal, saya sudah berupaya keras mengingat wajahnya tapi tetap saja hanya bibir tebalnya yang berhasil saya lukiskan di angan-angan, malah saya jadi teringat ketika saya di minggu pagi sedang bersama ibu melihat Andi beserta kakak laki-lakinya, adik perempuan, Ibu serta bapaknya di jalan sedang naik becak bersama, dia duduk di bibir becak bagian bawah, kakak nya menggendong adiknya, ibunya duduk memberikan suapan ke si bungsu dan bapak Andi mengayuh becak dibelakang. Sebagai kerja sambilan, bapaknya memang juga berprofesi sebagai tukang becak, mereka sekeluarga berjalan pelan dipinggir, dari pakaian yang mereka kenakan dan cerita Andi keesokan harinya disekolah, tujuan mereka saat itu adalah rekreasi ke taman rakyat di pinggir kota. Saya tidak begitu dekat dengan keluarga Andi dan hubungan saya dengan keluarganya juga tidak ada yang spesial , ditambah nasib malang menimpa banguan di sekitar TK kami, Gedung bioskop, kantor-kantor pemerintahan, perpustakaan umum dan TK kami yang selalu ceria pun telah ikut digusur dan dipindah. Hal ini dilakukan pemerintah kota untuk mewujudkan sebuah bangunan Mall pertama yang terlengkap di kota kecil milik kami, namun apapun yang terjadi sekarang, saya wajib mengenang Andi walau sesaat, dialah orang yang pertama memperlihatkan isi gedung bioskop kepada saya, meski gordyn masih menyelimuti "TV raksasa" itu dan yang paling penting adalah begitu sederhana yang diberikan olehnya saat seorang teman secara tak sengaja terlambat tahu darinya, yaitu, sebuah pendampingan. Sekali lagi Terima Kasih banyak ndi! semoga kita bisa bertemu di kesempatan yang akan datang...

(*Tulisan ini ditujukan untuk teman-teman yang juga telah menjadi pendamping-pendamping di masa pencerapan saat ini.)

Saturday, October 4, 2008

Melodi gelap Indonesia?


BERSUKA RIA
(Suara bersama)

reff :
Mari kita bergembira suka ria bersama, 
hilangkan sedih dan luka mari nyanyi bersama.
lenyapkan duka lara bergembira semua, 
Lalala La La La Laaa La mari bersuka ria.

Siapa bilang bapak dari Blitar, Bapak kita dari prambanan,
Siapa bilang rakyat kita lapar, Indonesia banyak makanan.

back to reff

Tukang sayur nama si Salim, menjualnya ke jalan Lembang.
Indonesia anti-NEKOLIM, para seniman turut berjuang.

back to reff

Jalan-jalan ke Surabaya, lebih cantik memakai pita.
Jangan s'lalu memandang saya, nanti bisa jatuh cinta.

back to reff

Pagar kawat pagar berduri, cat basah jatuh di kabel.
Kalau niat mencari istri, saya pilih yang pinter nyambel.


Praktis. ini menjadi lagu favorit saya jika ada yang membahas "Tembang Kenangan", memang arti  "Tembang Kenangan" selama ini hanya berkisar pada lagu-lagu era tahun '70an ke atas. Bagaimana dengan '60an? atau bahkan '50an? nyaris acara-acara yang menjadikan lagu lawas sebagai modal utama sebuah acara, terdengar dan terlihat sedikit sekali untuk menampilkan lagu-lagu di era orde lama. Apakah kelewat lawas? Tidak ada peminat? Kurang melankolis? ah, saya memang dijejali pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Tapi setidaknya saya mendapatkan hipotesa atau setidaknya anekdot untuk fenomena ini, bisa saja karena kualitas bermusik waktu itu. Kalau kita coba bandingkan dengan seksama, tehnik bermusik orde lama memang terlihat lebih memiliki skill, oke... kalau bukan "skill", mari kita menyebut saja "lebih dinamis". Saya sebagai orang awam dan sedikit mengingat susahnya pada saat saya ingin bermusik dulu (masa SMA) menganggap syair-syair dan melodi-melodi orde lama lebih berkelas!. Seperti lagu dengan judul "Bersuka Ria" diatas, cermati komposisi baitnya, dari saya mungkin berkomentar "Indonesia sekali". Kita serasa memiliki identitas yang jelas sebagai sebuah bangsa, dan itulah memang harapan pemimpin bangsa Ir. Soekarno waktu itu (Koes Ploes pun di bui karena dinilai kebarat-baratan). Memang sikapnya terkadang melahirkan banyak pro-kontra, tapi sebagai manusia yang bisa belajar dari pengalaman, mengapa tidak kita melestarikan yang bisa banyak melahirkan "Pro" daripada "Kontra" dan perlu diketahui bahwa "Kontra" banyak datang dari barat. 

Mimpi adalah yang selalu ditawarkan barat, sampai-sampai kita yang masih tertidur di bikin "ngiler" sekalian, "ngiler" oleh komersialisme. Di era reformasi sekarang sepatutnya Komersialisme dan Pragmatisme di imbangi oleh Idealisme, atau apakah Idealisme kebanyakan musisi mainstream kehilangan arah yang fitri? Sehingga musik-musik berkelas dimiliki oleh musisi yang berada pada gerakan independen? Mungkin saya terlalu jauh untuk menilai sebuah lagu easy listening yang dicipta pak Karno ini, yang pernah menjadi gelap di era orde baru dengan tuduhan anti-Tuhan. Sekarang, mari kita dengarkan saja dengan nikmat.

(*Lagu Bersuka Ria diciptakan oleh Ir. Soekarno, dan bait terakhir dinyanyikan sendiri oleh beliau)

Saturday, July 5, 2008

Film Para Sesepuh

Halo... memadat kegiatan akhir-akhir ini, sampai-sampai saya merasa kecil jika ada salah satu teman berbicara mengenai teori pengetahuan. Jujur, banyak sekali artikel yang saya dapat tapi hanya berdiam di harddisk drive D: dengan nama folder film about, tepatnya sub folder di dalamnya dengan nama let's read tapi ini tadi baru saja saya merubah namanya menjadi please read me!!. mungkin ada sekitar 50 an file berekstensi pdf, fffiuuh... baru sadar ini tugas yang berat, setiap file nya sama dengan sebuah buku dengan total halaman sekitar 200 sampai 300 lembar (semacam buku yang di scan), kebanyakan dalam bahasa inggris rumit yang harus saya ulangi setiap kata dan akhirnya saya hanya melamun... sengaja saya membuka lebih dulu file dengan judul paling panjang, yaitu The Philosophy Of Film Noir oleh Mark T. Conard. hasilnya sudah dua hari ini saya hanya mampu mendapatkan empat lembar prakata yang ditulis oleh Robert Porfirio....intinya, susah. setelah badan terasa mual, saya mencoba mencari hiburan, saya buka CD-CD film saya, tak lama saya temukan CD dengan label bertulis "film lawas", oh... ini hasil teman saya yang baik hati memberikan pinjaman kemarin.
ada tiga film di dalamnya, dan yang saya tonton pertama adalah "Tiga Buronan" karya Nja Abbas Accup di dekade 50an. praktis logo perfini yang menyerupai logo partai tersebut membuat gairah tersendiri dengan pergerakan kamera shaking-nya di awal film, yang mampu membuat untuk duduk lebih nyaman sebagai penonton (Perfini memang sangat terlihat bermutu filmnya setelah menampilkan kesederhanaan semacam ini). Coba bayangkan kalau Perfini ada di zaman sekarang, animasi logonya pasti keren, pak Usmar dan pak Rosihan pasti senang disana.
Film yang ringan, kocak, dan dekat dengan kita adalah rangkuman dari "Tiga Buronan". Bing Slamet memang aktor intelek waktu itu, meski memerankan kepala bandit yang dijauhi keberuntungan, pulang ke desanya dan membuat onar lagi dengan penduduk setempat. Dan iringan Gambang Kromong seolah menegaskan bahwa ini lho Indonesian Movie! (not malaysian..) yup, film ini membuat semangat... saya pribadi semangat sekali untuk langsung membuka final draft, dan file-file artikel itu tertunda lagi sampai tiba waktunya nanti... (kapan ya???)

Wednesday, March 26, 2008

Saudara Dalam Tontonan

Inmas Santi

Novianti Fiat

Harryadin Mahardika

Ketiganya adalah kakak - kakak kandung saya, Bapak dan Ibu mencoba menganut paham V-1 (5 tahun 1 anak) jadi bisa dibayangkan keterpautan anak pertama (Mbak Anti) dengan anak terakhir (saya), ya, 15 tahun, itu berarti ketika saya lahir mbak anti sudah berseragam SMP.
Dari segi tontonan, kita semua bersyukur diberi warisan gemar menonton oleh bapak. Mbak Anti adalah penikmat Serial P RamLee dengan BUJANG LAPUK-nya, atau serial bersetting jaman batu Kum Kum untuk kartun dari negeri Sakura di awal tahun - tahun 80an. Waktu itu Australia juga sempat singgah dengan Return To Eden atau serial Hollywood bersetting Singapura di masa lalu Bring To Back Alive, dengan menawarkan kesederhanaan naratif yang detil khas barat. TVRI Nasional dengan Dunia Dalam Berita (Hasan Azhari Oramahi, Sadzli Rais, Tuti Aditama, Anita Rachman dan Idrus) merupakan acara wajib tonton mbak Anti, dan imbas nya, mbak Anti mampu mengikuti lomba cerdas cermat tingkat SD TVRI SURABAYA yang terkenal ketat seleksinya.

Alm. Ryan Hidayat dan Onky Alexander merupakan aktor - aktor muda yang mampu menyihir jutaan penontonnya lewat film layar lebar LUPUS dan CATATAN Si BOY, dan salah satu penonton yang tersihir itu mungkin adalah Mbak Nopi. Film - Film "Salon" yang menyelimuti hedonisme Indonesia di akhir 80an membuat para remaja Indonesia menjadi kaum Utopis setelah keluar dari bioskop. Tragedy dan Komedy yang terbalut menjadi satu dalam tema cinta merupakan kombinasi yang mematikan untuk "Membetahkan" penonton tetap duduk menikmati, bisa di tebak, menangis dan tertawa adalah kegiatan impian memasuki bioskop waktu itu. SELEKTA POP & ANEKA RIA SAFARI (Edi Sud) adalah acara TVRI yang dinanti mbak Novi di rumah, kalau yang ini mungkin karena hasrat menyanyi yang dimilikinya, dan hasilnya TVRI Surabaya menayangkan aksi menyanyi mbak Novi dalam acara LAGU PILIHANKU (Idola Cilik -nya TVRI SURABAYA th 82-83), Lagu MAMA yang di populerkan oleh penyanyi cilik Julius Sitanggang menjadi lagu andalan mbak Novi. Ibu Peni dengan Acara AYO MENYANYI regional JAWA TIMUR merupakan salah satu penyebab anak sekecil mbak Novi waktu itu pandai ber- Sol Mi Sa Si.

Kungfu Master dengan tendangan seribu bayangan adalah jurus andalan Wong fei Hung di akhir pertarungan, konon jika terkena tendangan ini darah yang keluar dari mulut tak bisa di cegah, ya, pendarahan dalam. itulah kesukaan Ma Din (Mas Adin) dalam menonton Video Cassette yang kita sewa. Soundtrack yang khas dan penuh semangat mengiringi Wong Fei Hung mendominasi pertarungan dengan lawannya. tapi pemasangan soundtrack itu membuat filmnya mudah di tebak, rumusnya sederhana saja, musik mulai brarti sebentar lagi Mr. Wong fei Hung akan menang. Si cerdik Mc Gayver adalah tontonan Ma Din saat menikmati siaran TV, mungkin akibat kegiatan ini, dulu sempat Ma Din membobol telepon rumah dengan membuka gembok kecilnya dengan peniti.

Wednesday, March 12, 2008

SAYA DAN TV

Ingatan paling lama saya mengenai menonton sebuah tontonan terjadi pada saat saya berumur 6 tahun (1991). Pembelian dekoder oleh bapak membuat saya betah duduk di depan TV, hanya bercawat dan kaus dalam berpita kecil di dada. Sebuah TV bermerk Johnson yang menggunakan font seperti grup band beraliran Death Metal itu (Sulit Dibaca) memang sangat mudah di ingat, bentuknya yang memanjang sekitar 1,75 meter dilengkapi pengaman layar kaca yang bisa dibuka-tutup mirip sebuah rolling door menyamping. TV tersebut tanpa remote, mungkin ini yang menjadi salah satu pemicu seorang anak menonton terlalu dekat dengan layar (sekarang mata saya mengalami rabun jauh). RCTI adalah favorit saya waktu itu, disamping sebuah paket acara dari TVRI berjudul RONA-RONA (Ripley's belive it or not -nya Indonesia). Dan yang paling heboh adalah saat si old skool Max Sopacoa membawakan acara tinju dunia di minggu pagi, saya pasti berebut dengan bapak atau kadang - kadang tetangga yang kebetulan belum punya pesawat TV waktu itu (ngapunten pak..) alasanya simpel, DORAEMON dan film anak - anak setelahnya. Pernah saya diguyur air sama ibu saya akibat ngotot sekuat tenaga tidak ingin menyaksikan tinju - tinjuan manusia itu, kesetanan saya langsung padam menerima air yang terasa dingin (belum mandi sih..) jadilah saya menangis di kamar mandi plus nasehat ibu yang bertubi. TV bagi saya adalah teman, teman dengan bermacam - macam sifatnya.